KABARREPUBLIK.ID | Pohuwato – Rekaman video yang didokumentasikan warga pada malam 21 Mei 2026 memunculkan pertanyaan serius terkait dugaan keberadaan dua oknum Aparat Penegak Hukum (APH) di area Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato.
Dalam video yang beredar, dua pria yang diduga aparat terlihat berada di sekitar lokasi tambang ilegal. Salah satu bagian rekaman memperlihatkan tindakan yang oleh warga dianggap mengancam, yakni saat senjata api dipersiapkan dan di duga diarahkan ke salah satu warga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini dari sejumlah warga yang berada di lokasi, peristiwa tersebut bermula ketika sekelompok masyarakat mendatangi kawasan tambang untuk meminta izin bekerja sebagai kabilasa.
Menurut keterangan warga, kedatangan mereka berlangsung tanpa keributan maupun tindakan provokatif. Mereka bahkan mengaku sempat menyampaikan salam dan berjabat tangan dengan sejumlah orang yang berada di area perkemahan tambang tersebut.
Situasi kemudian berubah beberapa menit setelah seorang pria yang diduga berperan sebagai kepala kongsi memanggil dua orang yang saat itu berada tidak jauh dari lokasi aktivitas pertambangan.
“Waktu itu komo (oknum APH) sementara balia alat bakarja, baru kepala kongsi itu ada pangge. Baru saat itu, dua oknum tersebut diduga dalam keadaan mabuk,” tutur seorang warga.
Tak lama setelah dipanggil, dua orang yang diduga aparat mendatangi area perkemahan yang berada di sekitar lokasi alat berat beroperasi. Kehadiran mereka justru memunculkan tanda tanya di kalangan warga, mengingat lokasi tersebut merupakan kawasan PETI yang selama ini menjadi objek penegakan hukum.
Meski demikian, warga mengaku tetap menyambut kedatangan keduanya secara baik-baik. Salah seorang di antaranya diduga membawa senjata api jenis pistol yang terselip di bagian pinggang, sementara seorang lainnya disebut membawa senjata api laras panjang yang diduga merupakan senjata otomatis.
Keterangan warga menyebut, situasi mulai menegangkan ketika oknum yang membawa senjata laras panjang mengambil senjata tersebut dari dalam tas dan kemudian mempersiapkannya di hadapan masyarakat.
“Setelah dia datang ka kem, dia masih jabat tangan deng torang. Torang juga masih ba senyum pa komo, sesudah itu dia so trus ka blakang ba ambil senjata laras panjangnya itu di tas. Setelah itu dia datang didepannya kami, dia duduk setelah itu dia isi amunisi. Setelah dia taru dimeja senjata itu, ujungnya itu menghadap sama temannya kami,” kata seorang warga.
Warga menilai tindakan tersebut menimbulkan rasa takut karena posisi moncong senjata disebut mengarah ke area tempat mereka berada. Tidak ada laporan mengenai keributan ataupun tindakan yang dapat dianggap mengancam sebelum senjata tersebut dikeluarkan.
Rangkaian kejadian itu memunculkan berbagai pertanyaan mengenai alasan keberadaan dua oknum yang diduga aparat di kawasan tambang ilegal pada malam hari. Terlebih, lokasi tersebut diketahui merupakan area PETI yang secara hukum tidak memiliki izin operasional.
Sejumlah warga kemudian mempertanyakan kemungkinan adanya hubungan tertentu antara oknum aparat dengan aktivitas pertambangan yang berlangsung di lokasi tersebut. Dugaan mengenai adanya praktik pembekingan terhadap aktivitas PETI pun mulai menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai peristiwa tersebut maupun status dua orang yang terekam dalam video.
Media ini juga telah berupaya mengonfirmasi seorang warga yang diduga merupakan pemilik lokasi tambang melalui pesan WhatsApp ke nomor 0822-9640-XXXX.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan meskipun pesan yang dikirim telah berstatus diterima.


**Cek berita dan artikel terbaru dengan ikuti 