Siswa di Kota Gorontalo Jangan Jadi Preman, Belajar dan Teladani Gubernur Gorontalo

Gubernur Gusnar Ismail melaksanakan shalat subuh berjemaah di Masjid Agung Baiturrahim, Kota Gorontalo, Minggu (2/3/2025). [Foto: Dok. read.id]

KABARREPUBLIK.ID, Opini — Aksi perundungan kembali terjadi di Kota Gorontalo. Seorang siswa SMA Negeri 3 Kota Gorontalo diduga mengalami pengeroyokan oleh sejumlah temannya di Lapangan Karsa Utama, Kecamatan Kota Tengah, pada minggu pertama Januari 2026.

Peristiwa ini menambah daftar kekerasan di kalangan pelajar yang seharusnya menjadi generasi penerus daerah. Fenomena tersebut berkaitan erat dengan kondisi sosial Kota Gorontalo yang dalam beberapa waktu terakhir kerap diwarnai aksi premanisme.

Publik masih mengingat peristiwa pembacokan yang menghebohkan pada awal Desember 2025. Aksi kekerasan itu bahkan terjadi di hadapan Wali Kota Gorontalo. Peristiwa semacam ini jelas tidak memberikan contoh yang baik, terutama bagi generasi muda yang menyaksikannya.

Baca Juga :  Di Duga Fasilitasi Pengiriman Batu Hitam, Fajri Langgene Minta Kapolda Tindak Tegas Oknum Polisi Berinisial 'N'

Dalam kondisi seperti ini, para siswa di Kota Gorontalo perlu memahami bahwa kekerasan dan premanisme bukan jalan untuk membangun jati diri maupun masa depan. Pembentukan karakter justru harus bertumpu pada keteladanan, baik dari lingkungan terdekat maupun dari para pemimpin daerah.

Salah satu figur yang patut dijadikan teladan adalah Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail. Dalam kesehariannya, ia menunjukkan karakter kepemimpinan yang konsisten dan berakar pada nilai moral.

Baca Juga :  Dorong Kemandirian UMKM Gorontalo, Rusli Habibie Dukung Pelaksanaan GHM 2025

Gubernur Gusnar Ismail dikenal tidak pernah meninggalkan sholat Jumat dan sholat lima waktu. Ia juga membiasakan diri berpuasa sunnah pada hari Senin dan Kamis. Selain itu, ia tidak pernah memelihara premanisme di sekelilingnya.

Sikap tersebut penting untuk dicontoh oleh para siswa. Kekuasaan dan pengaruh tidak boleh dibangun di atas kekerasan maupun intimidasi. Gubernur Gorontalo juga tidak pernah bermasalah dengan ijazah pendidikannya. Hal ini menunjukkan pentingnya kejujuran dan proses yang sah dalam menempuh pendidikan.

Baca Juga :  Dorong Keterbukaan Program, Wakil Gubernur Gorontalo Tegaskan Peran Media Daerah

Dalam setiap pengambilan keputusan, Gubernur Gorontalo selalu berpikir secara matang, ilmiah, dan tidak gegabah. Sikap ini mengajarkan bahwa kecerdasan emosional dan kemampuan mengendalikan diri jauh lebih penting daripada keberanian yang disertai tindakan brutal.

Masih banyak keteladanan lain dari orang nomor satu di Gorontalo yang dapat dipelajari oleh para siswa. Keteladanan tersebut seharusnya menjadi cermin bahwa menjadi pelajar beradab jauh lebih terhormat daripada menjadi pelaku kekerasan atau premanisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *