Berita  

Belajar Dari Tragedi Poso, Densus 88 Gorontalo Sebarkan Pesan Damai dan Kemanusiaan Lewat Nobar Film ‘Tanah Runtuh’

Densus 88 Gorontalo bersama Pemkot Gorontalo, mahasiswa, masyarakat, dan insan pers mengikuti nobar Film Tanah Runtuh, Rabu malam (8/7/2026). [Foto: Densus 88/YI].

KABARREPUBLIK.ID | Gorontalo — Sebuah pesan sederhana lahir dari kisah pahit konflik masa lalu, bahwa ‘kekerasan tidak pernah meninggalkan kemenangan, tetapi hanya menyisakan luka’.

Pesan itulah yang ingin disampaikan Unit Pencegahan Satgaswil Gorontalo Densus 88 Antiteror Polri melalui kegiatan nonton bareng film ‘Tanah Runtuh’.

Bersama Pemerintah Kota Gorontalo, Polahi Task Force, mahasiswa, dan insan pers Gorontalo, Satgaswil Gorontalo Densus 88 menggelar nobar film ‘Tanah Runtuh’ di Gorontalo XXI, Rabu malam (8/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi untuk mengajak masyarakat memahami dampak konflik serta pentingnya menjaga perdamaian.

Melalui kisah kemanusiaan dalam film, peserta diajak melihat bahwa setiap tindakan kekerasan selalu membawa dampak panjang bagi masyarakat.

Baca Juga :  Densus 88 Ajak Siswa SMAN 1 Tapa Jadi Pelopor Toleransi dan Anti Radikalisme

Film ‘Tanah Runtuh’ mengangkat latar konflik Poso, Sulawesi Tengah tahun 2005. Cerita dalam film tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat yang kehilangan rasa aman akibat konflik, terutama anak-anak yang menjadi kelompok paling merasakan dampak dari situasi tersebut.

Melalui karakter Ringgo dan Kai, film ini menghadirkan gambaran tentang ketakutan, kehilangan, dan perjuangan mempertahankan nilai kemanusiaan di tengah konflik. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian harus terus dijaga agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Kepala Tim Cegah Satgaswil Gorontalo Densus 88 Antiteror Polri, Iptu Teguh Pribadi, S.E., mengatakan pencegahan radikalisme tidak hanya dilakukan melalui tindakan hukum, tetapi juga melalui pendekatan sosial, budaya, dan edukasi yang menyentuh kesadaran masyarakat.

Baca Juga :  Dari Masjid ke Masyarakat, Gibran Salurkan Bantuan Usai Shalat Jumat di Hutuo Limboto

“Pencegahan radikalisme tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum. Ada pendekatan lain yang juga penting, yaitu membangun kesadaran masyarakat melalui edukasi, budaya, dan nilai kemanusiaan. Film seperti Tanah Runtuh menjadi media untuk mengingatkan kita bahwa konflik hanya membawa penderitaan dan tidak memberikan manfaat bagi kehidupan bersama,” ujar Teguh kepada media ini.

Ia menjelaskan, kegiatan nobar tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan pesan perdamaian dengan pendekatan yang lebih dekat kepada masyarakat.

Menurutnya, nilai toleransi dan kemanusiaan perlu terus diperkuat untuk mencegah berkembangnya paham kekerasan, khususnya di Provinsi Gorontalo.

“Melalui kisah dalam film ini, kita berharap masyarakat Gorontalo dapat mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu. Perbedaan bukan alasan untuk saling membenci, tetapi menjadi kekuatan yang harus dijaga melalui toleransi dan rasa saling menghargai,” tambahnya.

Baca Juga :  LSM LAK-P2N Laporkan Dugaan Korupsi Proyek Jalan Rp103 Miliar di Talaud Ke Kementerian PUPR

Melalui kegiatan tersebut, Satgaswil Gorontalo Densus 88 berharap pesan damai dan nilai kemanusiaan dalam film ‘Tanah Runtuh’ dapat menjadi refleksi bersama.

Masyarakat Gorontalo diajak menjaga keberagaman, memperkuat toleransi, dan bersama-sama mencegah munculnya paham kekerasan di lingkungan masing-masing.

Sebagai informasi, film ‘Tanah Runtuh’ merupakan drama kemanusiaan Indonesia yang disutradarai Rudi Soedjarwo dan diproduksi Denny Siregar Production.

Film berdurasi 113 menit tersebut menghadirkan pesan tentang toleransi, kepedulian, dan pentingnya menjaga hubungan antarsesama.

**Cek berita dan artikel terbaru dengan ikuti WhatsApp Channel KABAR REPUBLIK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *