KABAR REPUBLIK | Kota Gorontalo — Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) memberi akses pendidikan kepada 15 siswa di Gorontalo. Para siswa tersebut mengikuti pembelajaran melalui skema PJJ yang mulai berjalan pada 10 Agustus 2026.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, meninjau pelaksanaan program tersebut di SMA Negeri 1 Gorontalo, Rabu (19/08/2026).
SMA Negeri 1 Gorontalo menjadi sekolah induk PJJ di Gorontalo. Sekolah tersebut bekerja sama dengan SMA Negeri 2 Limboto dan SMA Negeri 1 Gorontalo Utara sebagai sekolah mitra.
Kemendikdasmen menjalankan PJJ untuk memperluas akses pendidikan. Program itu menyasar anak tidak sekolah (ATS) dan peserta didik yang menghadapi kendala mengikuti pembelajaran reguler.
Dalam kunjungannya, Fajar berdialog dengan siswa melalui Zoom Meeting. Ia juga mendengarkan kendala yang guru hadapi selama proses pembelajaran.
Fajar kemudian memberikan motivasi kepada siswa. Ia juga meminta pemerintah daerah memperkuat sosialisasi PJJ kepada masyarakat.
“Teori PJJ ini 100 persen tidak tatap muka. Tapi praktiknya nanti mungkin bisa diusahakan untuk berkumpul, jangan belajar terus. Supaya ada ikatan,” kata Fajar.
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail turut mendampingi kunjungan tersebut. Ia menilai pemerintah perlu memberi perhatian khusus agar PJJ dapat menjangkau anak yang belum memperoleh akses pendidikan.
Gusnar juga mendorong pemerintah daerah memperkuat proses penjaringan peserta. Ia menilai pemerintah membutuhkan usaha khusus untuk menemukan anak tidak sekolah.
“Memang menurut saya harus kita tangani serius dan fokus. Ini ada kendala dalam menemukan anak-anak, itu harus ada usaha khusus, tidak bisa normal-normal saja seperti mendaftar orang masuk SMA. Nanti pemda juga akan turun tangan,” kata Gusnar.
Pemerintah mulai menyiapkan PJJ sejak April 2026. Program tersebut kemudian memulai pembelajaran pada 10 Agustus 2026 dengan kegiatan MPLS.
Pemerintah berharap PJJ dapat membantu menekan angka anak tidak sekolah di Gorontalo. Program tersebut juga membuka alternatif bagi peserta didik yang menghadapi kendala mengikuti sekolah reguler.















