Berita  

Tim Cegah Ungkap Modus Baru Jaringan Teroris, Orang Tua Diminta Jadi Benteng Utama Cegah Radikalisme

Kepala Tim Cegah Satgaswil Gorontalo Densus 88 Antiteror Polri, Teguh Pribadi, saat menjelaskan pola perekrutan jaringan teroris kepada masyarakat Kota Gorontalo, Sabtu (27/6/2026). [Foto: Densus 88/TP].

KABARREPUBLIK.ID | Kota Gorontalo – Tim Cegah Satgaswil Gorontalo Densus 88 Antiteror Polri mengingatkan masyarakat bahwa sel jaringan teroris di Kota Gorontalo masih aktif. Dalam tiga tahun terakhir, aparat melakukan penindakan terhadap sembilan warga Kota Gorontalo yang terlibat tindak pidana terorisme.

Data tersebut mendorong Tim Cegah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikalisme, terutama yang menyasar perempuan dan anak-anak. Tim menyampaikan peringatan itu dalam Roadshow Silaturahmi Pemerintah Kota Gorontalo dengan Masyarakat serta Sosialisasi Urusan Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan Tahun 2026, Jumat (26/6/2026).

Melalui forum tersebut, Tim Cegah mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman radikalisme dan terorisme. Tim juga memanfaatkan kegiatan itu untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga dalam menjaga stabilitas daerah.

Kepala Tim Cegah Satgaswil Gorontalo Densus 88 Antiteror Polri, Teguh Pribadi, menjelaskan bahwa pola perekrutan jaringan teroris terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya kelompok tersebut lebih banyak menyasar orang dewasa, kini mereka menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai target utama.

Baca Juga :  Densus 88 Edukasi Pelajar MTs Al-Huda Gorontalo soal Bahaya Radikalisme dan Konten True Crime

Berdasarkan studi kasus yang ditangani, perekrutan bahkan telah menyasar anak sejak jenjang SD, SMP, hingga SMA.

“Sel-sel jaringan teroris di Kota Gorontalo masih aktif hingga saat ini, hal ini dibuktikan dengan kurun waktu tiga tahun terakhir kami sudah melakukan penindakan atau penangkapan sebanyak sembilan warga Kota Gorontalo,” ujar Teguh Pribadi.

Selain mengubah sasaran, jaringan teroris juga memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menjalankan aksinya. Teguh mengatakan kelompok tersebut menggunakan game online dan media sosial sebagai sarana membangun komunikasi dengan calon anggota.

Bahkan, sejumlah daerah telah menemukan kasus perekrutan terhadap anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Dari studi kasus yang kami tangani, anak-anak ini direkrut melalui game online dan media sosial,” kata Teguh.

Baca Juga :  Densus 88 Gorontalo Tekankan Prestasi dan Keamanan Siswa Lewat Rekomendasi Pendidikan

Menurut Teguh, anak-anak lebih rentan terhadap pengaruh radikalisme karena masih berada pada fase pencarian jati diri. Mereka juga memiliki emosi yang belum stabil dan keinginan besar untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

Kondisi itu sering dimanfaatkan kelompok teroris untuk menanamkan pengaruh kepada calon anggota. Karena itu, Tim Cegah mengajak para orang tua memperkuat pengawasan terhadap aktivitas digital anak.

Orang tua juga perlu mendampingi penggunaan internet dan media sosial agar anak tidak terpapar paham radikalisme sejak dini. Tim menilai keluarga merupakan benteng utama dalam melindungi anak dari pengaruh ideologi ekstrem.

“Harapan kami kepada bapak dan ibu sebagai orang tua menjadi benteng terakhir bagi keluarganya, pelindung keluarga dari bahayanya paham radikalisme dan terorisme,” tutur Teguh Pribadi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Gorontalo menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat ketahanan ideologi masyarakat. Pemerintah memfokuskan upaya tersebut kepada generasi muda sebagai penerus pembangunan daerah.

Baca Juga :  Sasar Mahasiswa, Tim Cegah Densus 88 dan BNN Kota Gorontalo Edukasi Bahaya Paham IRET di UNG

Selain itu, pemerintah terus meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mencegah masuknya paham radikal.

“Kami berharap kepentingan ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan ideologi kepada anak usia dini dan masyarakat,” jelas Indra Gobel.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perlindungan generasi muda membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, organisasi masyarakat, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan keluarga harus saling bersinergi.

Menurutnya, pendekatan berbasis kearifan lokal akan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap radikalisme dan terorisme.

Karena itu, Pemerintah Kota Gorontalo berkomitmen melanjutkan program sosialisasi secara berkelanjutan di seluruh kelurahan guna memperkuat keamanan, ketertiban, dan ketahanan ideologi masyarakat.

**Cek berita dan artikel terbaru dengan ikuti WhatsApp Channel KABAR REPUBLIK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *