KABARREPUBLIK.ID, Gorontalo – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo bersama seluruh Organisasi Perangkat Daerah menggandeng perajin lokal untuk memproduksi 5.000 polopalo menjelang pembukaan PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026.
Langkah tersebut tidak hanya mendukung kemeriahan pembukaan PENAS. Namun sejalan dengan program Pemerintah Provinsi yang terus mendorong pemberdayaan UMKM dan pelaku ekonomi kreatif di Gorontalo
Sebagai koordinator, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Sudarman Samad, mengatakan pihaknya sengaja melibatkan masyarakat dalam proses produksi polopalo agar manfaat penyelenggaraan PENAS dapat dirasakan secara langsung oleh warga.
“Betul, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama OPD se-Provinsi Gorontalo melibatkan masyarakat dalam memproduksi polopalo. Masyarakat memang sengaja kami libatkan agar turut merasakan semarak PENAS Petani-Nelayan XVII di Gorontalo,” jelas Sudarman kepada media ini, Kamis (11/6/2026).
Sudarman menjelaskan, para perajin yang memproduksi polopalo berasal dari berbagai daerah di Gorontalo, termasuk kawasan pesisir Kabupaten Bone Bolango.
Selain melibatkan perajin lokal, panitia juga menyiapkan polopalo sebagai bagian dari rangkaian pembukaan PENAS XVII. Panitia akan membagikan alat musik tersebut kepada tamu VIP yang menghadiri acara pembukaan.
Menurut Sudarman, keberadaan polopalo dalam ajang nasional itu sekaligus memperkenalkan identitas budaya Gorontalo kepada peserta dari seluruh Indonesia.
“Polopalo merupakan warisan budaya Gorontalo. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional. Alhamdulillah, masyarakat terus melestarikannya hingga saat ini,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Gorontalo memanfaatkan momentum PENAS XVII untuk memperluas promosi budaya daerah.
Karena itu, pemerintah berharap pengenalan polopalo dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya Gorontalo sekaligus memperkuat citra daerah di tingkat nasional.
“Melalui momentum PENAS ini, kami ingin memperkenalkan polopalo kepada seluruh peserta. Kami ingin mereka mengetahui bahwa Gorontalo memiliki alat musik tradisional yang masih terjaga hingga sekarang,” pungkas Sudarman.













