KABARREPUBLIK.ID | Limboto — Semangat petani dan nelayan Bali untuk mengikuti Pekan Nasional (PENAS) 2026 tetap menyala di tengah berbagai keterbatasan. Kenaikan biaya perjalanan dan kebijakan efisiensi anggaran tidak menghentikan langkah mereka menuju Gorontalo.
Tahun ini, Kontingen KTNA Bali mengirim 91 peserta ke ajang nasional tersebut. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Saat itu, Bali mampu mengirim 300 hingga 325 peserta.
Meski jumlah peserta berkurang, komitmen kontingen tetap kuat. Mereka bahkan tiba di Gorontalo pada 16 Juni 2026 atau empat hari sebelum pembukaan PENAS.
Peserta Bali memanfaatkan waktu tersebut untuk menyiapkan berbagai kegiatan dan kebutuhan pameran.
“Jumlah peserta dari Bali sekarang ada 91 orang, ini termasuk sedikit kalau dibanding tahun-tahun yang lalu sebelum COVID-19. Pada tahun-tahun sebelumnya peserta bisa 300 orang, bahkan sampai 325 orang yang hadir,” ujar I Nyoman Selamat, ketua KTNA Bali kepada media ini.
Menurut Nyoman, tingginya biaya perjalanan menjadi penyebab utama berkurangnya jumlah peserta. Banyak petani dan nelayan memilih tidak berangkat karena harus menyesuaikan kondisi ekonomi masing-masing.
Meski demikian, 91 peserta yang berangkat tetap memilih hadir untuk mewakili Bali di tingkat nasional. Perjuangan mereka juga tidak berhenti saat memutuskan berangkat.
Mereka harus menanggung biaya perjalanan yang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Harga tiket pesawat menuju Gorontalo melonjak hampir dua kali lipat hanya dalam beberapa bulan.
“Beberapa bulan lalu tepatnya dibulan september kan saya ke sini juga karena ada rembuk persiapan pelaksanaan PENAS, waktu itu, tiket pulang pergi ada di angka lima jutaan. Namun saat berangkat kesini, tiketnya itu sudah ada di angka 10 jutaan lebih untuk pulang pergi, hampir sebelas juta,” katanya.
Lonjakan harga tiket tersebut menjadi tantangan berat bagi peserta yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan.
Namun meski menghadapi kondisi itu, mereka tetap melanjutkan keberangkatan ke Gorontalo. Mereka hadir tidak hanya membawa perlengkapan perjalanan. Mereka juga membawa harapan, semangat, dan kebanggaan untuk daerahnya.


**Cek berita dan artikel terbaru dengan ikuti 











